SITUS GUNUNG PADANG DI CIANJUR, BUKTI PERADABAN NUSANTARA TELAH MAJU SEJAK ZAMAN PRA SEJARAH


Meski saat itu belum lahir istilah kata NUSANTARA, namun gak ada salahnya kalau secara general penulis sebut. Sebab toh kota Cianjur di provinsi Jawa Barat kala itu masuk dalam wilayah Nusantara. Dimana kita tahu, konsep mengenai Nusantara sebagai sebuah daerah yang dipersatukan, pada awalnya bukan berasal dari Gajah Mada dengan sumpah Palapa nya, melainkan oleh Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhasari (disebut juga Singasari atau Singosari dalam Prasasti Mula Malurung yang diterbitkan oleh Kertanegara pada tahun 1255 atas perintah ayahnya, Wisnuwardhana selaku Raja Singhasari pada tahun 1248 - 1268). Saat itu, Kertanegara memperkenalkan konsep Cakrawala Mandala Dwipantara, yang  dalam bahasa Sansekerta, kata “Dwipa” memiliki arti yang sama dengan kata “nusa” yang berarti pulau dan kata “antara” yang memiliki arti yang sama dengan kata “antara”. dalam bahasa Indonesia. 

Seperti kita tahu Jawa Barat banyak menyimpan peninggalan sejarah nenek moyang, salah satunya Situs Megalitikum Gunung Padang yang tertelak di di perbatasan Dusun Gunungpadang dan Panggulan, Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur. 

Oleh beberapa ahli sejarah, Gunung Padang disebut-sebut sebagai situs tertua di dunia mengalahkan Piramida Gaza yang ada di Mesir. Situs ini berbentuk punden berundak yang merupakan tinggalan masa prasejarah yaitu zaman batu besar atau megalitikum. 

Kajian dan Penelitian

Seorang peneliti Belanda, Nicolaas Johannes Krom adalah orang pertama yang menemukan situs ini pada 1914. Namun, tidak ada penelitian atau perbincangan lebih lanjut.

Setelah sempat terlupakan, pada tahun 1979 tiga penduduk setempat yakni : Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi yang saat itu menjabat Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini.

Penelitian dan kajian terus berlanjut. Di tahun 2012, tim dari LIPI dan ETTI memaparkan hasil pengeboran dengan Peneliti Bencana Katastropik Purba (BKP) menunjukkan pada kedalaman hingga 20 meter ditemukan jejak hasil buatan manusia. Diperkirakan dibangun pada masa sebelum masehi, merupakan contoh bangunan masa prasejarah berupa punden berundak dalam skala besar dan situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara. Megalitikum adalah suatu kebudayaan yang utamanya menghasilkan bangunan-bangunan dari batu-batu besar. Batu-batu tersebut diratakan secara kasar untuk mendapatkan bentuk yang diinginkan. Menhir, dolmen, sarkofagus, kubur batu, punden berundak, dan arca adalah contoh hasil terpenting dari kebudayaan megalitikum. 

"Dicurigai ada tiga titik dimana ada ruangan yang kemungkinan berisi dokumen. Salah satunya berukuran hingga 10 kali 20 meter. Dari hasil pengeboran sampai kedalaman 20 meter kami melakukan tes carbon dating yang menunjukkan pondasi telah ada sejak tahun 4700 sebelum masehi," kata Dr. Danny Hilman dari Geotek LIPI, kala itu Selasa, 7 Februari 2012. Penemuan yang mencengangkan karena piramid Giza Mesir baru ada sejak 3500 SM. Hal ini membuktikan adanya peradaban yang sudah maju, karena pembangunan situs tersebut dinilai bukanlah pekerjaan ringan. "Kami belum menemukan adanya artefak atau tulisan yang bisa membuktikan seberapa maju peradaban tersebut," ujar Danny.

Disinyalir jika Gunung Padang digali lebih dalam lagi memungkinkan akan ditemukan suatu bentuk sebuah struktur piramida.

Ketua Exploration Think Tank Indonesia (ETTI), Dr. Andang Bachtiar, mengatakan memang terdapat harta karun yang tersimpan di situs tersebut. "Ilmu adalah harta karunnya. Kita dibilang masih zaman batu saat zaman kekaisaran Romawi. Katanya baru setelah letusan Krakatau di abad IV, masyarakat kita menetap dan membuat kerajaan. Masa sih sebelum itu tidak ada apa-apa ," kata Andang.

Andang menyebut kemungkinan besar bencana besar masa lalu yang menyebabkan peradaban prasejarah Indonesia terus-terusan musnah. "Hipotesis kami, ketika ada peradaban dan sudah maju, dihajar oleh bencana tsunami atau gunung meletus sehingga musnah. Muncul kembali dan mulai dari nol kemudian hal serupa terjadi lagi," kata Andang.

Hal ini tidak mengherankan karena Indonesia adalah rumah dari ratusan gunung api dan tercatat sebagai negara dengan garis pantai terpanjang di dunia. Terlebih lagi, posisi Indonesia yang berada di garis khatulistiwa membuat Indonesia lebih rentan terhadap berbagai bencana alam.

Andang menunjukkan kebanggaannya untuk pertama kalinya sejumlah tim yang seluruhnya terdiri dari Indonesia berhasil membuka situs bersejarah yang sangat besar. Andang juga menyangkal adanya campur tangan dari pihak asing dalam penelitian ini. "Kita tolak. Join riset boleh, tapi untuk keseluruhan kita masih mampu," kata Andang.

Akhirnya sejak tahun 2014, Situs Gunung Padang telah ditetapkan sebagai Situs Cagar Budaya Berperingkat Nasional sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 023/M/2014.

Situs Berundak 5 Teras

Situs  Gunung  Padang  merupakan  bangunan  berundak-undak atau biasa disebut dengan istilah punden berundak yang terdiri dari lima teras atau tingkatan,  dimana makin tinggi letak terasnya, luasnya makin menyempit. Kata punden berasal dari bahasa Jawa yang berarti terhormat dan berundak berarti bertingkat. Mengenai bagaimana luas, elemen struktur, bentuk model batuannya di teras 1 sampai 5 akan lebih detail bila berkunjung langsung ke sana. Nantinya secara awam bisa diamati dan ditelaah pola pola struktur dasar yang terdapat pada konstruksi elemen masing masing teras, untuk kemudian dapat dibuat gambaran pendekatan tulisan secara sederhana sebagai berikut :

Teras 1 : elemen tipe batu kolom persegi panjang yang menyerupai lingga sebagai simbol laki-laki

Teras 2 : elemen campuran struktur penggunaan batu kolom persegi panjang dan silinder yang diletakkan vertikal, menyerupai lingga simbol laki-laki dan yoni simbol perempuan diletakkan horizontal 

Teras 3 : umumnya dijumpai struktur batu  kolom persegi panjang atau silinder yang  diletakkan horizontal (simbol  perempuan), meski  masih ada batu yang diletakkan secara vertikal (simbol laki-laki)

Teras 4 : terdapat struktur seperti di teras dua dengan batu tipe silinder. Meski batu tipe silinder diletakkan vertikal, bentuk batu   cenderung bulat yang merupakan simbol perempuan 

Teras 5 : terdiri struktur batu kolom persegi  panjang atau silinder yang diletakkan horizontal (simbol perempuan)

Jumlah lima teras pada situs Gunung  Padang, seperti menggambarkan dunia manusia dalam kosmologi Sunda yang disebut Buana Panca Tengah, dimana panca berarti lima.  Berdasarkan hal tersebut, dapat diasumsikan bahwa situs megalitik Gunung Padang mengandung makna simbolik mengenai tahap-tahap yang dilakukan oleh jelema atau manusia biasa untuk menjadi manusa sempurna.

Mirip Situs Arca Domas dan Lemah Duhur 

Situs megalitik Gunung Padang memiliki kemiripan elemen konstruksi dengan Situs Arca Domas di daerah Banten dan Situs Lemah Duhur di daerah Cianjur juga. Berdasarkan kemiripan konstruksi tersebut, dapat diperkirakan bagaimana peran dan fungsi situs Gunung Padang bagi masyarakat dengan bertolak pada fungsi Situs Lemah Duhur juga Situs Arca Domas. 

Punden  berundak Arca Domas (Sasaka  Domas) bagi komunitas Baduy di Banten, merupakan tempat pemujaan yang disakralkan dan hanya boleh dimasuki setahun sekali pada bulan Kalima, pada saat upacara muja. Upacara muja dilaksanakan setiap tanggal 16, 17 dan 18  pada bulan Kalima penanggalan Baduy. Awal prosesi upacara dilakukan pada pagi hari tanggal 17 bulan Kalima di teras pertama. Upacara tersebut dipimpin oleh Puun Cikeusik dengan membacakan mantra-mantra dan doa-doa tertentu sampai  tengah hari. Kemudian dilanjutkan dengan  membenahi pelataran dan susunan batu  yang berserakan hingga ke puncak teras. Begitu  sampai di bagian puncak, peserta ritual upacara kemudian menyucikan muka, tangan, dan kaki pada sebuah batu lumpang yang disebut Sanghyang Pangumbaran. Seperti kita tahu, Puun adalah merupakan pimpinan adat Suku Baduy, yang memiliki tingkatan paling tinggi dalam struktur masyarakat Suku Baduy.

Sebagai tempat sakral atau kabuyutan bagi  masyarakat Baduy, Arca Domas terletak  di  bagian paling selatan atau paling dalam pada sistem orientasi kampung Baduy. Letaknya sebagai kabuyutan tersebut juga menyebabkan masyarakat Baduy meyakini bahwa Arca Domas merupakan tempat berkumpul para karuhun atau roh-roh leluhur mereka. Hal ini menyerupai kepercayaan animisme dimana roh leluhur berada di tempat tinggi seperti bukit atau gunung, dalam hal ini kabuyutan tempat Arca Domas berada.  

Kemudian, Situs Lemah Duhur merupakan bangunan megalitik berundak yang terletak  di Desa Sukajembar, Cianjur. Situs ini terdiri dari lima teras dan berorientasi utara-selatan. Seperti pada situs Gunung Padang, selain teras-teras pada Situs Lemah Duhur terdiri dari lima teras, semakin ke atas ukuran luasnya juga semakin mengecil. Halaman  Teras I dan II merupakan halaman yang paling luas dibandingkan dengan teras diatasnya.

Mengutip buku Haris Sukendar Hs, berjudul 'Dalam Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Cianjur Jawa Barat', mengemukakan hipotesis bahwa halaman Teras I dan II digunakan sebagai tempat berkumpul bagi pengikut upacara pemujaan pada situs Lemah Duhur, baik yang mencakup upacara pertanian atau upacara lain, seperti upacara  pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Kanekes di daerah Banten Selatan, Jawa Barat. Teras III pada situs Lemah Duhur memiliki beberapa bangunan dari batu-batu kali yang disusun membentuk persegi panjang, oleh Haris Sukendar diasumsikan sebagai tempat musyawarah masyarakat Megalitik pada masa itu.

Berdasarkan fungsi Situs Lemah Duhur dan Situs Arca Domas tersebut, Situs Gunung Padang bagi masyarakat primordial Sunda kemungkinan berfungsi terutama sebagai tempat upacara pemujaan sekaligus tempat berkumpul bagi para tetua adat. 

Menuju Lokasi

Salah satu keunikan dari Situs Gunung Padang adalah beberapa bagian batunya bila dipukul dengan benda keras bisa mengeluarkan bunyi-bunyian seperti alat musik, dengan ciri khas nada tertentu. Sebagian besar bebatuannya merupakan batu dari jenis andesit basaltis, berwarna abu-abu gelap. Gunung Padang sendiri bukanlah gunung aktif, tetapi lebih tepat dikatakan sebuah bukit dengan ketinggian sekitar 885 mdpl.

Situs Gunung Padang berlokasi di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Situs megalitik yang luar biasa ini dapat ditempuh 1,5 jam atau 45 km dari kota Cianjur. Jarak dari Jakarta sekitar 165 km dan dari Bandung kisaran 110 km. Perjalanan menuju ke Situs Gunung Padang melalui jalur naik-turun, kadang aspalnya mulus dan kadang jalanan berlubang dan berbatu. Luas Situs Gunung Padang adalah 291.800 m2, dengan batas-batas situs sebagai berikut, sebelah utara: Sungai Cimanggu, sebelah timur: Kali Cikuta; sebelah selatan: Kali Cikuta, sebelah barat: Kali Cipanggulaan.

Untuk menuju situs Gunung Padang, pengunjung dari Jakarta bisa mengambil arah dari Puncak Bogor atau alternatif Jonggol menuju Cianjur Kota. Jika ingin menggunakan kereta, pengunjung bisa naik kereta commuter line hingga Stasiun Bogor dan melanjutkan perjalanan dengan kereta lokal ke Stasiun Lampegan. Jaraknya tinggal 7 kilometer lagi ke area wisata Situs Gunung Padang.

Selamat Menikmati Keindahan Nusantara di Bumi Parahyangan. Nuhun


Pustaka :

Savitri Putri Ramadina, Analisis Perupaan Situs Megalitik Gunung Padang di Cuanjur Jawa Barat https://journals.itb.ac.id/index.php/jvad/article/view/753/454

LIPI, Situs Gunung Padang Bukti Peradaban Kuno Indonesia Telah Maju, http://lipi.go.id/berita/single/Situs-Gunung-Padang-Bukti-Peradaban-Kuno-Indonesia-Telah-Maju/7655

Wikipedia Gunung Padang

Sukendar Hs, Peninggalan  Tradisi  Megalitik  di  Daerah  Cianjur, Jawa Barat. Jakarta: Departemen Kebudayaan dan Pariwisata 2001







  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WISATA GROBOGAN : MRAPEN DAN KI AGENG SELO

'TANSAH ELING LAN WASPADA'

HAKEKAT 'GARUDA WISNU KENCANA'