'TANSAH ELING LAN WASPADA'
Eling lan wapada, selalu ingat dan waspada dalam mengarungi hidup. Eling berarti ingat pada Tuhan, yang Maha Segalanya dalam hidup dan kehidupan. Lalu, waspada dalam menempuh kehidupan, dengan pintar membaca situasi yang terjadi disekitar kita, baik kepada sesama juga kepada alam. Begitu kurang lebihnya pemaparan apa yang pernah ditulis oleh seorang Filsuf Pujangga Besar pada jamannya, Raden Ngabehi Ronggowarsito (1802 – 1873).
Serat Kalatidha karya Raden Ngabehi Ranggawarsita adalah serat yang berisi tentang falsafah atau ajaran hidup R.Ng Ranggawarsita. Menyadur dari bait ke 7 Serat Kalatidha :
Amenangi jaman edan (mengalami hidup pada jaman edan)
Ewuh aya ing pambudi (memang serba repot)
Milu edan nora tahan (mau ikut ngedan hati tidak sampai)
Yen tan milu anglakoni (kalau tidak mengikuti)
Boya kaduman melik (tidak kebagian apa-apa)
Kaliren wekasanipun (akhirnya malah kekurangan)
Ndilalah karsa Allah (namun sudah menjadi kehendak Allah)
Begja-begjane kang lali (bagaimanapun beruntungnya orang yang lupa)
Luwih begja kang eling lan waspada (masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada)
Kehidupan yang terjadi saat ini, termaktub dalam serat kalatidha, dilema pada zaman (kala) yang ragu-ragu (tidha). Mau ikut gila hati masih belum sampai, tetapi kalau tidak ikut ngedan bisa kekurangan. Dan lagi-lagi kehebatan Ranggawarsita, beliau tidak sekedar memasalahkan masalah, namun memberi peringatan sekaligus solusi jalan penyelesaian “Tansah Eling lan Waspada”.
Sering ada kalanya dipertontonkan dengan hal-hal yang menjauh dari kearifan, cari selamatnya sendiri bukan mencari selamatnya orang banyak, hukum bisa dibeli hingga kebenaran terpatahkan, segala sesuatunya nyaris semuanya diukur dengan materi, politik bukan menjadi alat menuju kemakmuran justru sebaliknya, dan lain lain seterusnya bisa dipilah pilah sendiri. Zaman Edan nek ora ngedan ora keduman, anekdot ini hampir semua orang sering mendengar. Ngedan adalah kesengajaan pikiran waras yang sadar ia melakukan demi menggapai keinginan, dalam tanda kutip keserakahan, karena kawatir tidak kebagian.
Lantas bilakah keadilan itu akan tiba, bila orang yang notabene dihormati dituakan sudah sulit dipercaya dan sudah tidak bisa menjadi panutan, krisis kepercayaanlah akhirnya. Lebih baik kembali ke hati dan pikiran masing-masing, dengan mengolah rasa batin diri. Semoga Tuhan selalu memberi bening Hati bening Pikiran, dan terang Hati terang Pikiran, itulah doa bijak keseharian, agar dialog jiwa dalam setiap waktu antara “Hati dengan Pikiran” kita selalu bening dan terang, sehingga melahirkan darma darma kebaikan. Suatu contoh dalam kehidupan, bila Hati kepengen beli mobil, sementara penghasilan masih kurang mencukupi, semoga Pikiran akan selalu menimbang nimbang, bukan memaksakan kehendak yang kedepan justru menyulitkan semua.
Begja-begjane kang lali – beruntungnya orang yang lupa, Luwih begja kang eling lawan waspada – masih lebih beruntung orang yang ingat dan waspada.

.jpeg)

Komentar
Posting Komentar