MENSYUKURI YANG ADA

Cukup yang sederhana-sesederhana dulu saja, bila kemampuan baru mencapai tahap itu. Tidak perlu ngayawara agar tidak menyakiti diri sendiri.

“Keinginan adalah sumber penderitaan…,” kalimat arif ini kadang terngiang. Sekiranya mempunyai cita-cita, mengejar keinginan yang besar, tanpa mau melihat keadaan dan kemampuan sendiri. Hal ini tentu berat. Mau maju terus atau berhenti, diri sendiri yang memutuskan. Karena, jika dipaksakan tentunya bakal menemui kendala, kembali ke masing-masing diri, sanggup apa tidak.

Menjelang fajar di suatu pedesaan, burung burung berkicau riang, embun berkilau di dedaunan menyambut matahari terbit.

Di kota besar, aktivitas lebih padat. Semua berpacu seperti mengejar waktu, ritme frekwensi padat dan cepat. Namun, inilah keseharian kehidupan yang musti dihadapi. Sepenuhnya tergantung kepada yang menyikapi dan menjalaninya. Sebisa mungkin belajar ikhlas menjalani agar lahir rasa syukur, yang menjadi akar dari ketenangan hati, pikiran, dan kebahagiaan.

Jika saat ini perbincangan partai politik mulai memanas untuk pilpres 2024, ya biarkan saja, karena sudah ada yang mengurusi.

Lebih bijak, ayo nikmati hidup ini, selagi masih bisa bekerja, makan, ngopi, merokok, dan becanda itu anugerah Allah yang luar biasa.

Coba lihat, perkembangan krisis di Inggris (dunia.tempo.com krisis-inggris-kian-parah-jutaan-orang-tak-makan-demi-menghemat), sebagian Jerman (https://news.detik.com/resesi-mulai-mengancam-ketahanan-ekonomi-jerman), kekawatiran itu sudah terbukti. Bukan menakut nakuti, tapi tidak ada salahnya, bila diri selalu menanamkan rasa bersyukur agar hati ini jadi tenang dan bahagia.

Di suatu pinggiran kota di Jawa Tengah, di sebuah warung kaki lima, warteg, rame dikunjungi para pelanggan untuk sarapan.

Selain murah meriah yang membuat warteg itu banyak pelanggan, tapi juga dekat dengan pabrik dan perkantoran kecil. Itulah perputaran ekonomi yang terus menggeliat. Sehingga, tanpa tersadari terjadi multi efek yang berkesinambungan.

Di sebuah perkampungan, bapak-bapak mengendarai motor atau sepeda berkililing jualan bakso bakar, cilok, rujak dan sebagainya. Disambut riang anak-anak yang ingin jajan, sungguh skenario hidup yang luar biasa.

Menjelang malam saya kembali ke peraduan. Saya memutar lagu NEGERIKU yang dibawakan dengan apik oleh alm Chrisye:

Oh negeriku, negeri cintaku

Selalu ada dalam hatiku

Cinta negeriku.

Kau bangkitkan semangat hidup selalu…

Sungguh asyik mendengar lagu Chrisye, sambil ngopi leyeh-leyeh ngebul menghabiskan dua batang kretek. Tiba-tiba meruah aroma khas di sekitarku, itu pasti kang Senthon kawan misterius saya yang datang. Namun saya bersikap tak acuh dan pura-pura tidak mengetahui kehadirannya.

Buuuoookkkkkk…! agak keras memukul punggung saya, tapi untungnya saya sudah siap. “Apa yang kau tulis di atas itu intinya sudah ada sejak jaman nenek moyang… Sakmadyo lan nrimo ing pandum saja,” cerocosnya. “Gitu ya… aku tidur dulu kang,” kupungkasi omongannya, karena saya kelelahan setelah seharian bekerja. Kang Senthon lalu kembali ke dunianya.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

WISATA GROBOGAN : MRAPEN DAN KI AGENG SELO

'TANSAH ELING LAN WASPADA'

HAKEKAT 'GARUDA WISNU KENCANA'