WERKUDARA DAN DEWA RUCI

Mengutip sepenggal kalimat bijak : memulai sebuah langkah musti diawali dari niat, semangat, komitmen, dan pantang menyerah hingga mencapai tujuan. Apa pun pikiran yang meragukan dan memberatkan hati harus dibuang. Yang utama dan pertama adalah musti siap menghadapi semua itu dengan segala konsekuensinya.

Menjelang saat pekerjaan menumpuk, diri sendiri yang akhirnya mengurai semua. Kuncinya adalah, jangan pernah melakukan pekerjaan itu dengan setengah hati, ragu-ragu, apa lagi minder. Sehingga hasilnya kurang maksimal. Tapi lakukan semua itu dengan tekad, semangat, dan kesungguhan hati agar hasilnya mencapai target.

==========

Bercermin seperti tekad yang dimiliki Werkudara. Tatkala Werkudara ksatria pandawa ingin belajar ilmu Sangkan Paraning Dumadi, gurunya Begawan Durna menjelaskan, bahwa untuk memperoleh ajaran itu, Werkudara harus mengambil Air Perwita Sari Mahening Suci yang berada di Hutan Tikbrasara, di kaki Gunung Reksamuka.

Tanpa banyak bicara, Werkudara mohon restu dan pamit untuk menggeledah hutan demi mendapatkan air itu. Ia sangat percaya diri dengan kekuatan dan kemampuannya, sehingga bakal memperoleh air yang dimaksud. Padahal tanpa disadarinya, hal itu merupakan siasat apus karma (jebakan) dari Durna.

Dalam perjalanan melewati rintangan yang berat itu, akhirnya Werkudara sampai ke dasar lautan. Dia bertemu dan menyatu dengan Dewaruci (yang pada hakekatnya adalah manunggal).

Werkudara berhasil dan kembali ke Hastinapura tanpa medendam sakit hati kepada Begawan Durna yang telah membohonginya.

Suatu sikap rendah hati yang seyogyanya dimiliki oleh siapa pun, jika mempunyai kemauan, tekad, dan cita-cita yang kuat.

=====

Pepatah Jawa “urip iku mung sawang sinawang, mula aja nyawang sing kesawang“. Hidup itu hanya tentang melihat dan dilihat. Jadi jangan hanya melihat dari apa yang terlihat. Jangan mudah menyimpulkan dari apa yang terlihat oleh mata, namun lihatlah juga dari apa yang tak terlihat melalui mata hati.

Yang sering terjadi saat wang sinawang adalah, rasa akan membandingkan dengan orang lain yang dilihatnya. Lalu menganggap orang yang dilihat itu memiliki hal-hal yang lebih baik. Sehingga muncul rasa iri dengki, rendah diri, berkecil hati, atau hidup seakan tak berarti. Padahal yang tidak terlihat itu belum tentu seindah dan senyata seperti yang dilihatnya itu.

Maka, jika mempunyai niat dan tekad untuk melakukan suatu hal atau pekerjaan besar, awaliah dengan percaya diri, fokus, dan tuntaskan untuk memperoleh hasil maksimal.

Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Yang sia-sia itu jika kita diam, dan tidak berbuat apa-apa.

Tabik – Nuhun.(riz)


Komentar